Saturday, August 19, 2017

FPI: Kami akan jadi garda terdepan jaga NKRI dari kelompok pemecah belah bangsa

 Front Pembela Islam (FPI) mengambil tema 'Merawat Kebhinekaan Dalam Bingkai NKRI Bersyariah' dalam Milad ke-19 di Stadion Muara Kamal, Jakarta Utara, Sabtu (18/8). Acara ini dihadiri seluruh kader FPI dan Laskar Pembela Islam (LPI) yang jumlahnya sekitar 15 ribu.

Ketua FPI KH Ahmad Sobri Lubis mengklaim acara tersebut bertujuan untuk merawat kebhinekaan yang ada di tanah air. Dia mengatakan nantinya FPI akan menjadi garda terdepan menjaga NKRI.
"Kami akan jadi garda terdepan untuk menjaga NKRI dari kelompok-kelompok yang ingin memecah belah bangsa Indonesia," kata Sobri di Stadion Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (19/8). 

Dia menjelaskan FPI adalah ormas yang terdepan dalam hal kebhinekaan. Dia mengklaim anggotanya terus menjaga toleransi antar umat beragama.

"Mari kita jaga saudara-saudara kita yang beragama non Muslim," kata Sobri seraya disambut gema takbir.

Menurut Sobri, perayaan ini digelar tak jauh dari hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus lalu. Tujuannya, untuk menggelorakan semangat nasionalisme anggotanya.

"Kita sudah tunjukkan kebersamaan kita dalam aksi Bela Islam beberapa waktu lalu. Mari kita tunjukkan semangat nasionalisme kita demi menjaga NKRI dari kelompok yang anti Kebhinekaan," tutup Sobri. [noe]
sumber : merdeka
Thursday, August 17, 2017

Tiga Orang Napi Kasus Terorisme Tolak Ikut Upacara Kemerdekaan


Tiga narapidana kasus terorisme yang saat ini mendekam di sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan klas IIB Tulungagung, Jawa Timur, menolak mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI bersama ratusan warga binaan setempat, Kamis (17/8/2017).



Kepala LP Klas IIB Tulungagung Erry Taruna mengatakan, pihaknya sudah membuka semua pintu kamar tahanan dan mengajak ketiga napi terorisme itu untuk ikut seremoni upacara bendera memperingati Kemerdekaan ke-72 RI, namun mereka memilih berada di dalam kamar (tahanan).

"Sementara mereka hanya sebagai penonton. Kami belum bisa tarik secara menyeluruh untuk menikuti kegiatan ini, apalagi salah satunya baru pindahan warga binaan pindahan dari (LP) Tuban. Jadi belum bisa (kami paksa) wajib ikut. Mau ikut silakan, tidak ikut tidak apa-apa, terserah mereka," kata Erry Taruna dikonfirmasi usai upacara Kemerdekaan dengan 287 warga binaan setempat.

Erry mengatakan tim sipir dan telah berupaya melakukan pendekatan secara psikologis untuk persuasi, termasuk dengan membuka pintu sel tahanan menjelang gelaran upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 WIB, namun ketiga napi kasus terorisme bersikeras bertahan di dalam kamar.

"Mereka mengakunya ya belum siaplah. Kami tentu tidak bisa memaksakan itu karena mereka termasuk napi kasus tertentu yang mendapat perlakuan khusus sehingga kami juga harus melakukan pendekatan yang baik dan terbuka," ujarnya.

Jangankan mengikuti upacara dan menghormat bendera merah putih bersama warga binaan lain, ketiga napi terorisme yang masing-masing bernama Dedi Fahrizal, Ridwan Sungkar, dan Noim Baasyir tersebut bahkan masih belum bersedia mengikuti program deradikalisasi yang ditawarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Informasi yang beredar, ketiganya tidak mau ikut program deradikalisasi karena salah satu alasannya adalah khawatir terhadap keselamatan anggota keluarga mereka.

"Adaptasi dengan warga binaan lain tidak masalah, komunikasi mereka juga baik. Mereka justru mudah diajak bicara asal di tempat terbuka, kalau tertutup malah tidak mau karena tidak ingin ada kecurigaan dari napi lain ataupun petugas LP," kata Erry Taruna.

Pelaksanaan upacara kemerdekaan ke-72 RI di LP Tulungagung secara umum berjalan lancar. Kegiatan upacara diikuti seluruh warga binaan kecuali ketiga napi terorisme tersebut, dari totak jumlah napi/tahanan sebanyak 290 orang.

Usai upacara dengan seluruh napi/tahanan mengenakan pakaian tahanan dan petugas sipir mengenakan pakaian tradisional digelar pukul 07.30 WIB hingga 08.10 WIB.

Usai upacara, seremoni dilanjutkan dengan pengumuman napi yang mendapat remisi pengurangan masa tahanan (remisi 1) dan remisi bebas (remisi 2) yang dipimpin oleh Bupati Tulungagung Syahri Mulyo dan dihadiri sejumlah tokoh forum pimpinan daerah setempat serta jajaran SKPD (satuan kerja perangkat daerah), sekitar pukul 11.00 WIB.

sumber : netralnews
Wednesday, August 16, 2017

Dua Bos First Travel Mengaku Lupa ke Mana Hilangnya Uang Jemaah

Kepala Bareskrim Polri Komien Pol Ari Dono Sukmanto mengatakan, belum diketahui ke mana hilangnya dana calon jamaah haji yang ditampung di rekening agen perjalanan First Travel.



Untuk diketahui, pada dua rekening milik perusagaan tersebut, hanya tersisa saldo Rp 1,3 juta dan Rp 1,5 juta. Kedua tersangka, Direktur Utama First Travel Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Desvitasari, mengaku lupa ke mana saja uang dialirkan.

"Dia (tersangka) sudah tidak tahu sama sekali. Terlalu banyak menyebar," ujar Ari di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (15/8/2017).

First Travel disebut-sebut menginvestasikan dana ke koperasi Pandawa. Koperasi tersebut diputus pailit dan pemiliknya menjadi tersangka kasus investasi bodong.

Penyidik juga mengkonfirmasi soal investasi itu kepada dua tersangka. Namun, kata Ari, kedua tersangka mengaku lupa apakah pernah menginvestasikan uang ke Koperasi Pandawa.

"Dia mengatakan, 'waduh saya sudah lupa ke mana saja'. Ini yang masih harus kita petakan," kata Ari.

"Kalau mau bilang ini ke Pandawa, buktinya mana. Tidak bisa hanya mendengar apa kata dia," lanjut Ari.

Sejauh ini, keterangan yang diambil dari kedua tersangka belum maksimal. Hal ini lantaran Andika dan Anniesa masih banyak mengaku lupa dan tidak tahu.

Selain itu, penyidik juga menggali keterangan dari staf First Travel, perwakilan calon jemaah umrah yang dirugikan, dan juga dari pihak kedutaan.

Sejauh ini polisi telah menyita aset tersangka meliputi sejumlah mobil dan rumah mewah, serta kantor cabang First Travel di Depok.

Dalam kasus ini, polisi Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Desvitasari, yang juga direktur di perusahaan tersebut.

Modus yang mereka lakukan yakni menawarkan harga pemberangkatan umrah yang lebih murah dari agen travel lainnya. Pembeli tergiur dan memesan paket umrah.

Namun, hingga batas waktu yang dijanjikan, calon jemaah tak kunjung berangkat. Perusahaan itu kemudian dianggap menipu calon jemaah yang ingin melaksanakan umrah.

sumber : kompas

Tak Mau Pasang Bendera Merah Putih, Minimarket di Ngawi Ditutup Warga


Kepala Desa Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Subandono memimpin warganya menutup satu minimarket yang berada di Jalan Raya PG Soedono Ngawi-Maospati, Desa Geneng, Kecamatan Geneng.



Penutupan ini menyusul tidak ada satupun bendera merah putih atau umbul-umbul yang dikibarkan. Padahal, menurut Subandono, memasang bendera merah putih menjelang perayaan HUT RI itu wajib bagi warga negara yang menghormati para pahlawan.

"Ketua RT dan warga sekitar sudah memperingatkan agar minimarket memasang bendera merah putih tapi tidak dihiraukan. Makanya saya pimpin langsung warga untuk menutup minimarket itu" ujar Subandono saat dihubungi Kompas.com, Selasa ( 15/8/2017) malam.

Subandono menyayangkan pemilik minimarket yang enggan memasang bendera merah putih. Kekecewaannya makin memuncak tatkala mengetahui karyawan minimarket itu belum memasang bendera merah putih karena belum ada perintah dari atasannya.

Sebenarnya, sambung Subandono, imbauan pemasangan bendera merah putih dan umbul-umbul sudah disampaikan jauh hari kepada manajemen minimarket tersebut.

Sesuai edaran Pemkab Ngawi, pemasangan bendera dilakukan sejak 24 Juli 2017 lantaran sekaligus memperingati hari jadi Kabupaten Ngawi.

"Begitu mendapat edaran itu saya beritahukan kepada warga dan mereka langsung membeli bendera dipasang di depan rumah masing-masing. Bahkan warga kami yang tinggal di pelosok karena rasa cinta tanah air juga memasang bendera merah putih, " tuturnya.

Subandono menjelaskan, tidak dipasangnya bendera merah putih menunjukkan pemiliknya tidak memiliki rasa cinta tanah air. Menurutnya, bila pemilik belum memerintahkan memasang bendera merah putih semestinya karyawannya patungan membeli bendera.

"Tadi sempat kami tanya mengapa mereka belum pasang bendera merah putih. Alasannya menunggu pimpinan. Padahal mereka bisa patungan untuk membeli bendera tanpa harus menunggu perintah pimpinannya," kata Subandono.

Setelah ditutup warga, karyawan minimarket itu akhirnya memasang bendera merah putih. Ia mengharapkan peristiwa itu tak terulang lagi ke depannya.

Sumber : kompas
Tuesday, August 15, 2017

Rencananya, Lima Terduga Teroris Antapani Akan Ledakkan Istana Negara Agustus Ini

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, lima orang terduga teroris yang ditangkap karena menyimpan bahan baku kimia pembuatan bom di sebuah kamar kontrakan di Jalan Jajaway, Kelurahan Antapani Kidul, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, berencana melakukan aksi peledakan bom kimia di sejumlah objek vital nasional pada akhir Agustus 2017 mendatang.



"Akhir bulan ini rencananya bom selesai dirakit. Menurut mereka, bulan Agustus adalah waktu yang bagus untuk meledakkan bom," kata Yusri di lokasi penggeledahan, Selasa (15/8/2017) sore.

Penggeledahan tersebut dilakukan Unit Jibom Polda Jawa Barat bersama tim Inafis Polrestabes Bandung serta Densus 88 Antiteror, Selasa (15/8/2017).

Beberapa objek vital nasional yang menjadi sasaran lima terduga teroris ini salah satunya adalah Istana Presiden RI.

"Dari keterangan mereka, salah satu targetnya adalah meledakkan bom di Istana Negara," ungkapnya.

Selain itu, para tersangka terduga teroris juga akan meledakkan Markas Komando (Mako) Brimob di Jakarta dan Bandung.

"Petugas Polri di lapangan juga menjadi target mereka," jelasnya.

Yusri menambahkan, bom yang dirakit oleh para terduga teroris ini bisa dikatakan berbeda dan lebih canggih dari bom panci yang belakangan ini dipakai oleh teroris Indonesia untuk melakukan aksi teror.

Meski tidak menghasilkan daya ledak tinggi, efek yang ditimbulkan dari berbagai macam zat kimia dalam bom ini akan menimbulkan reaksi yang cukup mengerikan jika terkena kulit atau terhirup gas.

"Bom ini diaktifkan dengan menggunakan remote control," tandas Yusri.(Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana)

Berita ini sudah dimuat di Kompas.com dengan judul: Lima Terduga Teroris Antapani Berencana Serang Istana Negara

sumber : tribunnews

Begini Rivalitas Tiga Dinasti di Pilpres 2019

Menarik, kalau menyaksikan, melihat, menonton dan mengamati permainan, atau lebih tepat disebut pertarungan politik di jalan menuju panggung pilpres 2019. Meski 2019 masih 2 tahun lagi, tetapi nuansa, aura atau hawa panas mulai terasa. Dan diyakini hawa panas itu akan mendidih menjelang hari “H” 2019.


Dari berbagai gelagat pertarungan yang mulai terbaca saat ini, bersumber dari sejumlah pilar alias dinasti darah biru yang sejak kemerdekaan mulai kelihatan. Adalah tiga dinasti yang sejak lama memancarkan aura kebesarannya. Sebut saja dari dinasti Soekarno, Soeharto, dan Sarwo Edhie Wibowo.

Sarwo Edhi Wibowo atau yang lebih dikenal dengan nama Sarwo Edhiesaja, memang sangat populer di zaman populernya PKI ketika itu. Bahkan, popularitasnya jauh melebihi Pak Harto ketika itu. Sarwo Edhieadalah sang pemimpin Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Dan jelasnya, Ibu Any Yudhoyono adalah anak Sarwo Edhie Wibowo itu. Tanpa mengecilkan kebesaran keluarga Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun oleh segelintir orang dikatakan kebesaran Pak SBY tidak terlepas dari kebesaran Ibu Any Yudhoyono.

Sehingga, dari sananya sudah kelihatan secara telanjang tentang kebesaran tiga dinasti itu, Soekarno, Soeharto dan Sarwo Edhie. Dan sekarang sudah terlihat bahwa kebesaran ketiga dinasti itu telah melahirkan para pemimpin negeri ini.

Soekarno, adalah sang proklamator dan presiden ke-1 RI, Soeharto juga menjadi presiden ke-2 RI, dan Sarwo Edhie yang meski tidak sempat jadi presiden ketika itu, tetapi keluarganya, tepatnya suami anaknya, Bu Any, yakni SBY juga bisa menjadi presiden.

Dan kini, ketiga tokoh sentral di masa lalu itu, telah melahirkan dan membentuk dinastinya masing-masing. Dari dinasti Soekarno telah berhasil melahirkan Megawati Soekarnoputri yang pernah juga jadi presiden, tinggal apakah Soeharto akan melahirkan anaknya yang dapat menjadi presiden seperti Megawati?

Atau, apakah malah cucu Soekarno yang kembali menjadi presiden, yaitu Puan Maharani, anak Megawati yang kini telah menjadi menteri, sehingga diyakini itu menjadi batu loncatan untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi lagi, yaitu Presiden, atau minimal wakil presiden pada pilpres 2019?

Dari dinasti Seoharto, sebenarnya masih tampak jelas kalau beberapa anaknya dapat dikatakan masih menunjukkan gelagatnya untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Oleh banyak pengamat dikatakan, ada Mbak Tutut, Tommy dan Titiek Hediati, yang masih, entah secara diam-diam atau secara terang-terangan sedang merajut harapan untuk menjadi presiden.

Kenapa ketiga anak Soeharto itu yang diprediksikan meneruskan dinasti Soeharto, itu karena ketiga anak itulah yang lebih sering tampil ke ruang publik dan membuat publik Indonesia bergemuruh, apalagi saat mereka melantunkan wacana seputar politik dan bisnis.

Selain Mbak Tutut, Tommy, dan Titiek Hediati, yang diprediksi masih ingin menapaki kursi RI-I, juga ada Prabowo Subianto, yang sudah dua kali gagal meraih kursi RI-I, tetapi dari kacamata publik, masih terlihat jelas kalau keinginan menjadi orang nomor satu Republik itu masih tajam dan jelas.

Dengan melihat sudah dua kali Prabowo gagal meraih kursi RI-I, dan peluangnya sudah tambah kecil pada pilpres 2019, maka dari keluarga Cendana ini, masih lebih memungkinkan adalah Tommy dan Titiek.

Titiek sendiri sekarang masih bergulat di panggung politik dengan menjadi anggota DPR dari Partai Golkar. Sedangkan, Tommy, meski tidak lagi menjadi anggota DPR, tetapi energi politik dan ekonominya masih sangat kuat untuk bertarung menuju kursi RI-I pada pilpres 2019.

Selain, tokoh-tokoh muda dari kedua dinasti Soekarno dan Soeharto, ada juga tokoh muda lain yang semakin diperhitungkan, bahkan kelihatan cukup brilian meskipun masih muda, yakni Agus Harimurti Yudhoyono dari dinasti Cikeas, cucunya Sarwo Edhie, atau anaknya Bu Any dan mantan presiden SBY.

Agus sendiri memang pernah gagal meraih kursi gubernur DKI Jakarta. Tetapi, jelas sekali kalau kekalahan hari itu, tidak membawanya hilang semangat. Karena, jika dapat diprediksi, jelas kalau pencalonan diri Agus ketika itu, sebenarnya baru tahap awal alias latihan awal untuk bertarung di kancah politik yang memang sangat keras.

Kita bisa berani mengatakan kalau cita-cita akhir dari perjuangan politik Agus bukan berhenti jadi gubernur, melainkan ingin mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi presiden suatu saat kelak, kalau bukan tahun 2019, ya puncak perjuangannya adalah lima tahun kemudian.

Pertimbangannya hanya satu, usianya masih sangat muda, dan masih perlu menambah pengalamannya dalam mengabdi kepada bangsa dan negara ini. Dan dari gelagat politik yang mulai terbaca saat ini, Agus dapat menjadi tokoh kuda hitam dalam percaturan dan pertarungan politik untuk 10 sampai 15 tahun ke depan.

Pertanyaannya, dinasti siapakah yang akan lebih mendominasi politik di panggung kekuasaan di negeri ini, perjalanan waktulah yang akan menyeleksi dan mengukirnya.

ssumber : netralnews

Megawati sebut pihak yang tuding Jokowi diktator pengecut

Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri membela Presiden Joko Widodo yang telah menerbitkan Perppu Ormas. Megawati bahkan menyebut orang-orang yang menyebut Jokowi diktator adalah pengecut.



"Waktu kemarin saya bela Presiden, mungkin sudah baca di medsos, yang saya bilang Presiden dibilang diktator. Lalu buat apa ya termasuk saya susah-susah bikin Reformasi, sekarang dibilang diktator. Saya bilang orang itu pengecut," kata Megawati dalam pidatonya di Auditorium LIPI, lantai 2, Jl Jenderal Gatot Subroto,Jakarta Selatan, Selasa (15/8).

Megawati meminta bukti Jokowi adalah seorang diktator. Sebab, menurutnya, seorang presiden diperbolehkan membuat Perppu.

"Saya bicara di medsos bullying orang enggak jelas, tunjukkan sikap kamu bahwa bapak diktator (Presiden Jokowi). Enggak boleh Presiden bikin Perppu? Saya juga pernah Presiden, boleh. Kenapa enggak boleh," terang Megawati.

Dia mengatakan jika negara sudah dalam kondisi darurat dan genting seorang presiden tidak akan diam saja. Harus ada upaya yang dilakukan agar negara tidak darurat.

"Kalau negara dalam keadaan bahaya piye? Tanya tuh Pak Jenderal Agus, Kita suruh diam aja pak? Jangan ketawa loh pak. Saya tanya gitu, mau didiami? Musuh masuk, oke nyerah lagi, buat apa pengorbanan sekian banyak pendahulu-pendahulu, founding fathers kita," terang Megawati.

"Apa begitu riwayatnya kini Indonesia raya yang kita cintai? Kalau saya ya bela mati-matian. Konstitusional seorang Presiden tuh buat perpres, perppu, boleh. Kenapa, karena itu membungkam aspirasi gitu? Kalau aspirasi yang benar enggak benar piye? Bagaimana ya mau mengubah konstitusi kita. Amerika aja, declaration of independent sekitar 200 tahun," lanjut Mega. [dan]

sumber : merdeka

Dalam BAP Buni Yani, Ahok Mengaku Hidupnya Terancam karena Dilabeli Penista Agama

Majelis Hakim akhirnya berkenan mengabulkan permohonan pembacaan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dibawa oleh jaksa dalam sidang kasus pelanggaran UU ITE dengan terdakwa Buni Yani.



Meski Ahok tidak hadir, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut kesaksian Ahok melalui BAP dirasa cukup lantaran yang bersangkutan juga sudah diambil sumpahnya ketika membuat kesaksian tersebut.

Dalam BAP-nya, Ahok mengaku bahwa hidupnya menjadi tidak tenang setelah video pidatonya di Kepulauan Seribu yang diunggah Buni Yani melalui Facebook beredar luas di masyarakat. Bahkan, ia pun mengaku sempat mendapat ancaman pembunuhan.

"Saya mengalami kerugian antara lain fitnah, yang mana banyak orang terutama warga DKI Jakarta menganggap saya menista salah satu agama. Saya juga merasa terancam karena sampai ada seseorang yang ingin membunuh saya dengan imbalan uang sejumlah satu miliar rupiah karena saya menistakan agama," kata JPU membacakan BAP Ahok di Gedung Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Bandung, Selasa (15/8).

Terkait langkah politiknya, Ahok mengaku sempat diminta mundur dari pencalonan gubernur oleh salah satu partai politik pendukungnya. Ia juga menceritakan bagaimana jatuh bangun melakukan kampanye ketika ada sejumlah tempat yang menolak kehadirannya lantaran dianggap sebagai seorang penista agama.

"Salah satu partai pendukung meminta saya mundur. Dalam kampanye ditolak di beberapa tempat karena saya dituduh telah menistakan agama," ujarnya lagi.

Selain itu, Ahok juga merasa warga DKI Jakarta pada kenyataannya merasa terancam dengan adanya teror dan demonstrasi pada tanggal 4 November 2016 silam.

sumber : jitunews
Monday, August 14, 2017

Bantah Disebut Rasis dan Pro-Syariah, Dhani: Saya Hanya Anti-Ahok

Musisi Ahmad Dhani kerap frontal mengkritik mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sindiran Dhani kian gencar saat Ahok tersandung kasus penistaan agama.



Sikapnya ini kadang membuat sejumlah pihak menudingnya rasis. Namun lewat akun Twitter-nya, Dhani membantah. Suami Mulan Jameela ini menyebut, dirinya hanya anti-Ahok.

"Yang sebut saya Rasist itu Tol*l,sebut sy pro syariah jg b*go,sy cm anti ahok. #ADP," tulis Dhani di akun Twitter-nya, Senin (14/8/2017).

Menanggapi cuitan Dhani. Warganet (netizen) berkomentar. Ada yang menyebut cuitan-cuitan Dhani hanya sensasi, karena karir keartisannya mulai redup.

"@AHMADDHANIPRAST Yang percaya dani taat agama memang b*go.iri aja sama ahok yg lebih tenar dari dia.artis makin redup cari sensasi promosi," ujar @a0927277163.

"@AHMADDHANIPRAST Saya tahu kenapa mas ANTI AHOK,, karena ahok ANTI POLIGAMI..," kata @andridubs.

"@AHMADDHANIPRAST Dhani lo gak ngaruh. ..ahok lo benci ttp bersinar bg permata tp lo ttp sampah..Masyarakat," balas @JAdisuyanto123.

Seperti diketahui, akibat cuitan Dhani soal Ahok, berbuntut panjang. Pada 6 Maret 2017 lalu Ahmad Dhani berkicau melalui akun Twitter@AHMADDHANIPRAST, yang nadanya dianggap menghasut dan penuh kebencian terhadap pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Mantan calon wakil Bupati Bekasi itu menulis, "Siapa saja yg dukung Penista Agama adalah Bajingan yg perlu diludahi muka nya - ADP."

Oleh pendukung Ahok, cuitan Dhani dianggap ditujukan kepada mereka karena saat itu berkenaan dengan hebohnya kasus penistaan agama yang menjerat Ahok.

Dhani kemudian dilaporkan kelompok pendukung Ahok-Djarot, yaitu BTP Network, ke Mapolda Metro Jaya pada 9 Maret 2017 lalu. Namun kasus tersebut kemudian dilimpahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Kini, kasus tersebut telah dinaikan ke tingkat penyidikan.

sumber : netralnews